Ketika Orang Gila Lebih Waras dari Kita

Last Updated: 25 September 2026By Daily Views: 2Total Views: 41

Kewarasan bukan diukur dari luasnya ilmu, banyaknya harta, atau tingginya jabatan, tapi dari sejauh mana hati kita hidup dan terhubung dengan nikmat Allah. Orang yang setiap pagi masih bisa bersyukur atas udara yang dihirup, itu jauh lebih waras daripada mereka yang menguasai dunia tapi tak pernah merasa cukup.

Suatu hari, seorang menteri kerajaan mendapat perintah dari rajanya untuk mengunjungi rumah sakit jiwa. Ia diperintahkan untuk mengetahui keadaan para pasien, agar sang raja bisa menentukan kebijakan yang lebih baik bagi mereka. Maka berangkatlah sang menteri dengan penuh wibawa, disertai rasa ingin tahu dan sedikit keangkuhan di dada, karena merasa dirinya adalah orang yang paling waras di antara mereka semua.

Namun di antara pasien yang tampak berteriak tak tentu arah, tertawa sendiri, dan berbicara dengan bayangan, sang menteri melihat seorang pemuda berwajah tenang dan rupawan. Gerak-geriknya lembut, matanya jernih, dan tutur katanya ketika menyapa terdengar sangat sopan. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kegilaan. Maka mendekatlah sang menteri, dengan niat ingin berbincang dan mungkin menghibur diri bahwa masih ada kewarasan tersisa di tempat itu.

“Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu,” kata si pemuda, tiba-tiba memotong niat sang menteri untuk bertanya lebih dulu.

Sang menteri tersenyum, merasa tertarik. “Silakan, tanyakanlah,” ujarnya dengan nada ramah tapi masih menyimpan gengsi jabatan.

“Kapan orang yang tidur merasa nikmat?”

Sang menteri berpikir sejenak. Pertanyaan itu tampak sederhana. Ia tersenyum lalu menjawab dengan percaya diri, “Ketika bangun.”

Pemuda itu tersenyum kecil. “Bagaimana mungkin ia bisa merasa nikmat ketika bangun? Bukankah saat itu tidurnya sudah berakhir?”

Sang menteri sedikit terdiam. Lalu, seperti mencoba menambal jawabannya, ia berkata, “Maka, ia merasa nikmat sebelum tidur.”

Pemuda itu menggeleng. “Orang yang belum tidur belum merasakan apa-apa. Bagaimana ia bisa merasa nikmat dari sesuatu yang belum terjadi?”

Lihat juga: Amul Jama’ah; Meredam Ego demi Persatuan

Kini sang menteri benar-benar mulai berpikir. Ia mengganti jawabannya lagi, “Kalau begitu, ia merasa nikmat ketika tidur.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Orang yang sedang tidur tidak merasakan apa pun. Ia bahkan tak sadar. Bagaimana bisa ia menikmati sesuatu yang tidak ia sadari?”

Sang menteri terdiam lama. Ia tak lagi punya jawaban. Akhirnya ia bangkit, mengakhiri percakapan dengan senyum kaku dan berkata dalam hati, “Benarlah, orang gila memang pandai membolak-balik logika.”

Namun ketika ia melangkah keluar dari rumah sakit itu, entah mengapa ada sesuatu yang membebani dadanya. Pertanyaan tadi terus berputar-putar dalam pikirannya: “Kapan orang yang tidur merasa nikmat?”

Pertanyaan yang tampak gila, tapi semakin ia pikir, semakin terasa dalam.

Kisah ini tampaknya sederhana, tapi di balik kalimat-kalimat pendeknya, tersimpan pelajaran mahal bagi setiap kita yang mengaku waras.

Sang pemuda di rumah sakit itu mungkin disebut “gila” oleh masyarakat, tapi bisa jadi, dialah satu-satunya orang yang benar-benar berpikir. Ia mempertanyakan sesuatu yang sering kita anggap sepele: kapan manusia benar-benar bisa merasakan nikmat dari hidupnya?

Apakah setelah mendapatkannya? Sebelum mendapatkannya? Atau saat sedang menjalaninya?

Pertanyaan itu seperti pintu yang dibuka perlahan, hingga menyingkap rahasia tentang betapa rapuhnya kesadaran kita dalam menikmati nikmat.

Kita sering merasa nikmat baru hadir setelah sesuatu berlalu, setelah bangun dari tidur, setelah sehat dari sakit, setelah lapang dari sempit. Namun ketika kita di dalamnya, jarang kita benar-benar menyadari bahwa itu nikmat. Begitu tidur lelap, kita tak merasa apa pun. Begitu bangun, nikmatnya telah berganti dengan kesibukan lain. Begitu lapar hilang, kita lupa bagaimana rasanya bersyukur atas sesuap nasi.

Kita ini mirip sang menteri, merasa waras, padahal sering tak sadar bahwa kita sedang hidup di tengah nikmat yang tak kita rasakan. Kita terjebak di antara “belum tidur” dan “sudah bangun”, sibuk menunggu waktu yang tepat untuk bahagia, padahal setiap waktu sebenarnya sedang menunggu kita untuk disyukuri.

Lihat juga: Terlanjur Berbuat Zina

Di situlah “kegilaan” pemuda itu menjadi cerminan bagi kewarasan yang palsu.

Ia menggugat cara berpikir manusia modern yang terlalu tergesa-gesa menilai nikmat hanya dari hasil, bukan dari kesadaran. Manusia kini sibuk bekerja siang malam agar bisa “menikmati hidup nanti”, padahal hidup sedang menunggu untuk dinikmati sekarang. Kita menunda bahagia sampai semua rencana berhasil, padahal justru saat berjuang itulah nikmatnya hidup.

Sang menteri adalah gambaran kita semua, yang merasa lebih tinggi karena punya logika, jabatan, dan perintah. Tapi logika sering kali membatasi pandangan kita hanya pada apa yang bisa diukur, sementara nikmat yang sejati tak bisa diukur dengan angka. Ia hanya bisa dirasakan oleh hati yang sadar.

Pemuda itu mungkin tampak gila karena tidak berpikir seperti kebanyakan orang. Tapi justru itulah bentuk kewarasannya. Ia sadar bahwa manusia sering kehilangan kemampuan merasakan. Kita bangga dengan akal, tapi akal tanpa kesadaran justru gila. Kita pandai menganalisa, tapi lupa bagaimana caranya merasakan.

Maka, pelajaran dari kisah ini adalah bahwa kewarasan sejati bukanlah sekadar kemampuan berpikir, melainkan kemampuan untuk menyadari dan mensyukuri.

Kewarasan bukan diukur dari luasnya ilmu, banyaknya harta, atau tingginya jabatan, tapi dari sejauh mana hati kita hidup dan terhubung dengan nikmat Allah. Orang yang setiap pagi masih bisa bersyukur atas udara yang dihirup, itu jauh lebih waras daripada mereka yang menguasai dunia tapi tak pernah merasa cukup.

Kita sering menyebut orang gila karena perilakunya tak seperti kita. Tapi bisa jadi, dalam pandangan Allah, justru kitalah yang kehilangan arah. Bukankah banyak orang yang mengaku waras tapi tak tahu untuk apa ia hidup, bekerja, dan mengejar dunia tanpa henti? Bukankah banyak yang tampak tertawa di luar tapi gersang di dalam?

Mungkin mereka inilah para “menteri” yang terus berjalan dari rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lain, tanpa pernah sadar bahwa pasien sejatinya adalah dirinya sendiri.

Ada satu kalimat indah dari ulama sufi yang pantas jadi renungan: “Kewarasan yang sejati adalah ketika akal tunduk kepada cahaya iman.”

Akal yang berjalan sendiri tanpa iman akan tersesat oleh kesombongan logika. Ia akan menertawakan kebingungan orang lain, padahal dirinya yang sebenarnya sedang tersesat. Sedangkan akal yang tunduk pada iman, meski kadang terlihat “gila” di mata dunia, sesungguhnya ia sedang menikmati kewarasan hakiki.

Mungkin inilah di antara makna dari kisah sang menteri dan pemuda itu. Bahwa terkadang, “orang gila” mampu membuka pintu kesadaran yang tak bisa dibuka oleh mereka yang mengaku waras.

Maka, mari kita belajar. Belajarlah merasakan sebelum kehilangan. Syukurilah saat masih ada, bukan setelah tiada. Jangan tunggu bangun baru menyadari betapa nikmatnya tidur. Jangan tunggu sakit baru merindukan sehat. Jangan tunggu ajal baru menyesali waktu yang hilang.

Sebab, hidup hanyalah sebentar. Dan kadang satu-satunya cara agar kita tidak menjadi “gila” adalah dengan mengakui bahwa akal kita pun bisa salah menilai nikmat.

Jangan sampai kita menjadi menteri yang sibuk mencari “orang gila”, padahal kewarasan kita sendiri sudah lama pergi, terselubung dalam kesombongan logika dan kesibukan dunia.

Maka, jika hari ini kita merasa waras, berhati-hatilah. Jangan-jangan akal kitalah yang sedang gila.

Dan jika kita pernah merasa gila karena mempertanyakan hidup, jangan takut. Bisa jadi, itu tanda bahwa akal kita sedang berusaha menjadi waras. Wallahu a‘lam. (AS)

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment