Menjadi Baik Itu Sederhana dan Mudah, Namun Menjadi Sosok yang Memberi Manfaat Bagi Sesama Membutuhkan Perjuangan Serta Ketulusan Nyata

Last Updated: 24 September 2026By Daily Views: 4Total Views: 50

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” H.R. At-Tabarani, Al-Mu’jam al-Kabir, XII No. 13292,dari sahabat Ibnu Umar r.a.

Seringkali kita merasa cukup hanya dengan menjadi orang “baik” (shalih). Kita salat tepat waktu, sering berjamaah, kita shaum, menjauhi maksiat, dan kita merasa aman di dalam “kepompong” kesalihan pribadi kita.

Pengertian Mushlih

Kata Mushlih pada Tsulasi Mazid adalah wazan Ashlaha-Yushlihu, yang digunakan untuk membentuk isim Fail dari kata kerja yang diawali tambahan alif hamzah di depan. Dengan arti; memperbaiki, mendamaikan. Sedangkan kata Mushlih menjadi isim Fail dari Ashlaha, artinya; pelaku yang memperbaiki, pelaku yang mendamaikan.

Shalih, kesalehannya berhenti pada dirinya sendiri (lazim). Sementara Mushlih diartikan manfaatnya harus menyeberang kepada orang lain. Karena Mushlih bekerja untuk memperbaiki kerusakan di masyarakat, maka ia adalah indikator utama dari kemanfaatan yang aktif.

Maka orang yang Mushlih menghilangkan kerusakan sekaligus memberikan perbaikan. Indikator manfaat disini  adalah kemampuannya mengubah keadaan yang buruk menjadi baik. Menghilangkan penderitaan orang lain adalah bentuk kemanfaatan yang paling nyata.

Menjadi baik itu memang indah, layaknya sekuntum bunga yang mekar dalam lemari kaca; indah, bersih, cantik, tapi wanginya tidak tercium oleh siapapun, keindahannya terkurung hanya untuk dirinya sendiri. Menjadi baik itu relatif mudah, cukup dengan menahan diri dari menyakiti orang lain dan memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, kita sudah disebut orang baik.

Namun, Islam tidak turun ke bumi hanya untuk menciptakan individu-individu yang shalih sendirian. Islam menuntut kita untuk naik kelas, dari sekedar Shalih (baik) menjadi Mushlih (yang memperbaiki/bermanfaat). Inilah jalan yang berat itu, jalan kebermanfaatan.

Lihat juga: https://www.sigabah.com/raudhah-mengawal-makna-ilmi-santri-dalam-tradisi-literasi/

Mengapa Shalih itu “Mudah” dan Mushlih itu “Berat”

Menjadi pribadi shalih cenderung lebih mudah diterima oleh masyarakat karena:

  • Zona Nyaman: Kesalehan individual tidak mengusik kepentingan orang lain. Orang yang jujur, rajin salat, dan pendiam biasanya disukai dan tidak dianggap sebagai ancaman.
  • Penerimaan Sosial: Masyarakat secara alami akan memuji orang yang shalih karena mereka memberikan aura positif tanpa memaksa orang lain untuk berubah.
  • Risiko Rendah: Menjadi shalih jarang mengundang permusuhan. Selama kebaikan itu hanya untuk diri sendiri, tidak akan ada pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

Menjadi mushlih jauh lebih berat karena ia adalah agen perubahan yang membawa misi perbaikan:

  • Mengusik Status Quo: Seorang mushlih akan berhadapan dengan kemunkaran, ketidakadilan, dan kebiasaan buruk masyarakat. Hal ini tentu akan mengusik kenyamanan pihak-pihak yang diuntungkan oleh kerusakan tersebut.
  • Risiko Penolakan dan Permusuhan: Sejarah para Nabi adalah bukti nyata. Nabi Muhammad SAW sebelum diutus (fase shalih) diberi gelar Al-Amin (Yang Terpercaya) dan dicintai seluruh Mekkah. Namun, begitu beliau mulai berdakwah memperbaiki akidah (fase mushlih), beliau dimusuhi, dihina, bahkan diusir.
  • Beban Tanggung Jawab: Mushlih harus memiliki kesabaran ekstra karena ia memikul beban orang lain, memperbaiki mentalitas yang rusak, dan seringkali bekerja tanpa apresiasi.

Bukti Kejujuran Iman

Menjadi Mushlih itu berat. Mengapa berat? Karena jika menjadi Shalih itu ibarat menjadi danau yang tenang, maka menjadi bermanfaat itu ibarat menjadi sungai yang mengalir deras. Sungai itu harus menabrak batu karang, rela menjadi tidak bersih lagi demi menghidupi sawah-sawah yang kering, dan tak henti mengalir meski jalannya berliku.

Dalam hadis riwayat Ath-Thabraniy, Rasulullah saw. bersabda: “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Hadis ini menjadi cambuk bagi jiwa-jiwa yang terlena dalam kenyamanan. Rasulullah tidak berkata “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak salat sunnahnya” atau “paling lama zikirnya”. Karena ibadah adalah kewajiban, namun kebermanfaatan adalah bukti kejujuran iman. Orang yang bermanfaat adalah orang yang rela “lelah, capek, bahkan sakit”. Ia adalah lilin yang berani habis demi menerangi sekitarnya, meskipun tubuhnya sendiri harus meleleh terbakar api. Ia adalah pohon berbuah dan rela dilempari batu oleh manusia, namun membalasnya dengan menjatuhkan buahnya yang manis.

Lihatlah para Nabi, mereka tidak dimusuhi karena mereka “shalih”. Mereka dimusuhi karena mereka Mushlih.  Karena mereka turun tangan, mengubah keadaan, menegakkan keadilan, dan menebar manfaat yang mengganggu kenyamanan para manusia yang zhalim kepada sesama.

Allah Swt. berfirman dalam Q.s. Al-Isra [17]: 7, “jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu juga akan kembali pada dirimu sendiri.”

Ayat ini menyiratkan bahwa kebaikan kita akan memantul kembali. Tapi ingatlah, menjadi bermanfaat menuntut pengorbanan ego. Saat kita memilih untuk bermanfaat, mungkin kita akan dikritik saat mencoba memperbaiki sistem. Kita mungkin akan kehilangan harta saat bersedekah membantu anak yatim dan dhuafa. Tapi ingatlah, besi yang ditempa api akan menjadi pedang yang tajam, sedangkan besi yang didiamkan hanya akan menjadi rongsokan berkarat.

Keutamaan Mushlih dalam Perspektif Al-Qur’an

Perbedaan mendasar antara keduanya terlihat pada cara Allah memandang eksistensi sebuah kaum. Allah Swt. berfirman dalam QS. Hud [11] ayat 117: “Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan (Mushlihūn).”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah tidak mengatakan “selama penduduknya orang-orang yang shalih”, melainkan “mushlihun”. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan kolektif yang aktif melakukan perbaikan adalah perisai dari bencana sosial dan azab Allah, sedangkan kesalehan individual saja tidak cukup untuk menyelamatkan sebuah bangsa dari kehancuran sistemik.

Kesimpulan

Menjadi shalih adalah fondasi, namun menjadi mushlih adalah puncak dari kebermanfaatan manusia sesuai hadis Rasulullah saw. “Khairunnas anfa’uhum linnas”. Shalih itu mudah karena ia hanya membutuhkan disiplin diri, namun menjadi mushlih itu berat karena membutuhkan keberanian untuk meluruskan yang bengkok dan memperbaiki yang rusak. Umat saat ini tidak kekurangan orang baik (shalih), namun sangat membutuhkan para pejuang perbaikan (mushlih) yang mampu membawa perubahan nyata.

​Jika hari ini kita merasa sudah cukup baik karena shalat lima waktu kita terjaga, tanyakan pada nurani: Siapa yang sudah tersenyum karena bantuan tangan kita hari ini? Siapa yang beban hidupnya menjadi ringan karena kehadiran kita? ​Jangan sampai kita mati hanya meninggalkan nama di batu nisan, tanpa meninggalkan jejak kebaikan di hati manusia.

Mari kita menjadi hamba Allah yang kehadirannya dinanti, dan ketiadaannya ditangisi. Jangan menjadi buih di lautan, yang banyak jumlahnya namun hilang tak berbekas. Jadilah seperti hujan, dimanapun ia jatuh, ia selalu menumbuhkan kehidupan. Semoga Allah melembutkan hati kita, bukan hanya untuk menjadi hamba yang shalih di atas sajadah, tetapi menjadi pejuang kebaikan yang bermanfaat ditengah-tengah masyarakat. (UM)

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment