Pemuda Persis: Politik Bukan Sekadar Jabatan, tetapi Ruang Menghadirkan Kemaslahatan

Last Updated: 30 September 2026By Daily Views: 6Total Views: 23

 

TASIKMALAYA, September 2026 — Madrasah Siyasah Pimpinan Daerah Pemuda Persis Kota Tasikmalaya menjadi ruang bagi kader untuk memperluas pemahaman mengenai siyasah sekaligus membaca berbagai perubahan dan tantangan yang dihadapi umat dan bangsa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis, Hilman Rasyid, menegaskan bahwa Madrasah Siyasah tidak semestinya dipahami hanya sebagai ruang untuk membicarakan politik. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk belajar membaca realitas, memahami persoalan umat dan bangsa, serta menyiapkan kader agar mampu mengambil peran strategis secara adil dan bertanggung jawab.

Dalam pandangan Hilman, siyasah bagi kader Pemuda Persis tidak boleh direduksi menjadi persoalan perebutan posisi atau kekuasaan. Siyasah harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan, menjaga nilai-nilai keislaman, dan memastikan dakwah memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Siyasah harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan, menjaga nilai keislaman, dan memastikan dakwah memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat.”

Menurut Hilman, keterlibatan kader dalam ruang siyasah juga harus berangkat dari kemampuan membaca dinamika zaman. Di tengah globalisasi dan disrupsi yang bergerak cepat, Pemuda Persis dituntut untuk menentukan posisi strategisnya agar jam’iyyah tidak sekadar menjadi penonton sejarah.

Karena itu, kemampuan membaca realitas dunia, bangsa, dan lingkungan sosial tempat dakwah berlangsung menjadi hal penting bagi kader.

Membaca Tantangan Zaman

Hilman menyebut bahwa tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Persaingan global tidak hanya berlangsung dalam bentuk kekuatan militer, tetapi juga melalui persoalan ekonomi, teknologi, energi, geopolitik, hingga arus informasi.

Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tekanan ekonomi hingga maraknya persoalan seperti penipuan keuangan digital, judi online, pinjaman online, investasi bodong, dan penyebaran hoaks yang berpotensi memecah persatuan umat dan bangsa.

Dalam kondisi tersebut, peserta Madrasah Siyasah dipandang memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan berbagai tantangan zaman ke dalam kerja dakwah siyasah yang nyata dan berdampak.

“Kita dituntut untuk menerjemahkan tantangan zaman tersebut ke dalam kerja dakwah siyasah yang nyata dan berdampak, demi membawa kapal dakwah Pemuda Persis berlayar lebih jauh dan menembus ombak zaman.”

Dari Wacana Menuju Kerja Nyata

Menurut Hilman, Pemuda Persis merupakan organisasi kader yang memiliki amanah dalam menjaga nilai purifikasi dan menggerakkan tajdid. Karena itu, kaderisasi menjadi salah satu unsur penting yang menentukan keberlanjutan organisasi.

Memasuki usia 90 tahun, Pemuda Persis menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pergeseran nilai sosial, disrupsi digital di kalangan generasi muda, persoalan kemandirian ekonomi, hingga krisis moral. Kondisi tersebut menuntut hadirnya Tajdid Syamil, yaitu pembaruan yang mencakup berbagai aspek kehidupan.

Hilman menekankan bahwa identitas Pemuda Persis tidak cukup dibangun melalui wacana dan gagasan. Pengetahuan dan nilai yang dimiliki kader harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa salah satu tantangan organisasi kader berbasis ilmu adalah apa yang disebutnya sebagai Sindrom Menara Gading, yakni ketika kader memiliki penguasaan dalil dan pengetahuan, tetapi justru gagap membaca realitas sosial di sekitarnya.

Karena itu, kader Pemuda Persis dituntut untuk mampu memahami karakter generasi muda hari ini, termasuk Generasi Z dan Alpha, serta berbagai tantangan yang lahir dari perkembangan teknologi digital, budaya populer, dan perubahan sosial.

Tajdid dalam Metodologi Pergerakan

Dalam menghadapi perubahan tersebut, Hilman menekankan pentingnya membedakan antara prinsip dasar yang menjadi pijakan dengan metodologi pergerakan yang dapat dikembangkan sesuai konteks zaman.

“Kita tidak akan pernah mengubah akidah kita (Tajrid), namun kita mampu mengubah metodologi pergerakan kita (Tajdid).”

Menurutnya, Pemuda Persis perlu hadir di berbagai ruang strategis, termasuk ruang dakwah digital, pusat kajian ilmiah, sektor ekonomi, dan politik, dengan membawa narasi Islam yang solutif, inklusif, dan mencerahkan.

Dengan demikian, politik tidak ditempatkan semata sebagai jalan menuju jabatan, tetapi sebagai salah satu ruang strategis untuk menghadirkan nilai, kepemimpinan, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Madrasah Siyasah dan Masa Depan Jam’iyyah

Hilman menegaskan bahwa Madrasah Siyasah tidak boleh berhenti pada diskusi dan pengetahuan. Forum tersebut diharapkan melahirkan kader yang mampu membaca zaman, memahami persoalan umat dan bangsa, serta menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kerja nyata yang bermanfaat.

Dengan bekal ilmu, nilai, dan kemampuan membaca realitas, kader Pemuda Persis diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan masyarakat dan bangsa secara adil dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, Madrasah Siyasah menjadi bagian dari ikhtiar menyiapkan kader agar mampu membawa dakwah Pemuda Persis berlayar lebih jauh, menghadapi ombak perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai yang menjadi identitas perjuangan jam’iyyah.

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment