Madrasah Siyasah Dan Masa Depan Politik Pemuda Persis Di Kota Tasikmalaya

Last Updated: 27 September 2026By Daily Views: 2Total Views: 35

Hari ini, Ahad, 27 September 2026, saya berkesempatan menghadiri Launching Madrasah Siyasah Pemuda Persis Kota Tasikmalaya dengan tema “Berpolitik dengan Ilmu, Bersikap dengan Adab, dan Berkhidmat dengan Amanah.” Bagi saya, tema ini harus menjadi lebih dari sekadar slogan. Ia harus menjadi panggilan bagi Pemuda Persis untuk mengambil peran lebih serius dalam kehidupan sosial dan politik Kota Tasikmalaya.

Pemuda Persis jangan hanya menjadi penonton politik, apalagi sekadar komentator di media sosial. Kita perlu hadir sebagai generasi yang memahami persoalan, menguasai data, mampu membaca kebijakan, berani mengkritisi kekuasaan, sekaligus mampu menawar

kan solusi. Sebab politik bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan jabatan, tetapi tentang bagaimana keputusan politik memengaruhi kehidupan masyarakat.

Dalam konteks Daerah, Kota Tasikmalaya masih memiliki banyak pekerjaan rumah: pendidikan, kemiskinan, pengangguran, ekonomi masyarakat, pelayanan publik, lingkungan, hingga masa depan anak muda. Maka pertanyaan penting bagi Pemuda Persis bukan hanya “siapa yang kita dukung?”, tetapi juga “persoalan apa yang harus kita perjuangkan dan kebijakan apa yang harus kita kawal?”

Di sinilah Madrasah Siyasah harus menjadi ruang kaderisasi yang serius. Pemuda Persis perlu belajar membaca APBD, memahami kebijakan pemerintah, menguji program, melihat kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan, serta menyusun gagasan yang bisa ditawarkan kepada publik. Jangan puas hanya mampu mengatakan “pemerintah salah”. Kita harus mampu menjelaskan di mana letak masalahnya, apa datanya, apa dampaknya, dan apa alternatif solusinya.

Namun, keberanian politik harus tetap dibangun di atas adab. Kritis bukan berarti kasar, berani bukan berarti arogan, dan berbeda pilihan bukan berarti kehilangan persaudaraan. Inilah yang harus menjadi karakter politik kader Persis: tajam dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan kokoh dalam memegang prinsip.

Lebih jauh, Pemuda Persis harus berani keluar dari budaya politik yang hanya berorientasi pada jabatan dan kepentingan jangka pendek. Politik harus dipandang sebagai ruang pengkhidmatan. Jika suatu hari ada kader yang berada di dalam pemerintahan, legislatif atau ruang-ruang kekuasaan, ia harus membawa nilai amanah. Jika tidak berada di dalam kekuasaan, ia tetap punya tanggung jawab untuk mengawal, mengkritisi dan menawarkan solusi.

Karena itu, saya berharap Madrasah Siyasah tidak melahirkan kader yang hanya pintar berbicara tentang politik, tetapi miskin gagasan ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat. Kita membutuhkan kader yang mampu mengubah kegelisahan menjadi kajian, kajian menjadi gagasan, dan gagasan menjadi gerakan.

Pemuda Persis tidak cukup hanya bertanya siapa yang berkuasa. Kita harus mulai bertanya: kebijakan apa yang lahir, siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang tertinggal, dan apa yang bisa kita lakukan?

Ukuran keberhasilan politik bukan seberapa banyak kader kita menduduki jabatan, tetapi seberapa besar keberadaan kita memberi manfaat bagi masyarakat.

Semoga dari Madrasah Siyasah ini lahir kader Pemuda Persis yang berilmu , beradab dan amanah ketika diberi kekuasaan.

Arip Ripandi (Bidang Garapan Pendidikan PD Persis Kota Tasikmalaya/PPI 383 Gandok)

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment