Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Last Updated: 20 Juni 2026By Daily Views: 2Total Views: 566


TasikNews.com – Santri Putri Pesantren Persatuan Islam (PPI) 67 Benda menghadirkan pementasan teater “Seikat Seruni” sebagai bagian dari rangkaian Haflah Imtihan dan Pekan Amal (HIPA) 2026 yang digelar pada 8 Juni 2026 di Gedung Serbaguna Aminullah PPI 67 Benda. Melalui XSchool Teater Laysa, para santri memadukan seni pertunjukan dan musik sebagai media dakwah yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan.

Pementasan tersebut diperkaya dengan lagu orisinal “Tentram dalam Derita”, hasil kolaborasi XSchool Teater Laysa bersama M. Iqbal Barawas. Lagu ini menjadi soundtrack utama yang memperkuat pesan dramatik pementasan sekaligus mengajak penonton merefleksikan luka sejarah, khususnya tragedi yang dialami perempuan pada Mei 1998.

Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Melalui lirik dan aransemen yang menyentuh, “Tentram dalam Derita” mengingatkan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Lagu tersebut mengajak masyarakat untuk terus merawat empati, meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan, serta memberikan penghormatan kepada mereka yang pernah menjadi korban ketidakadilan.

Sebagai satu kesatuan karya, “Tentram dalam Derita” dan “Seikat Seruni” saling melengkapi dalam menyampaikan pesan kemanusiaan. Keduanya menghadirkan ruang refleksi bagi penonton untuk memahami sejarah, mendengarkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan, sekaligus menumbuhkan harapan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Mengangkat kisah perempuan korban tragedi Mei 1998, “Seikat Seruni” menjadikan bunga seruni sebagai simbol harapan, ketabahan, dan penghormatan kepada mereka yang pernah mengalami luka. Melalui alur cerita yang emosional, penonton diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga membangun kepedulian terhadap sesama serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Teater Laysa menunjukkan bahwa panggung dapat menjadi media dakwah yang menyampaikan ajaran Islam tentang keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui perpaduan musik dan teater, pesan-pesan tersebut disampaikan dengan pendekatan yang menyentuh, edukatif, dan relevan dengan kehidupan generasi masa kini.

Pembina Teater Laysa Putri, Surury Daily, S.Pd., menyampaikan bahwa pementasan “Seikat Seruni” berjalan sesuai harapan. Menurutnya, tujuan utama pementasan bukan semata menghadirkan hiburan, melainkan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai realitas sejarah serta perjuangan perempuan yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

“Kami berharap Teater Laysa semakin dikenal masyarakat luas dan karya ini dapat kembali dipentaskan di berbagai kesempatan sehingga pesan kemanusiaannya dapat menjangkau lebih banyak orang,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh anggota Teater Laysa Angkatan IV yang telah menunjukkan dedikasi tinggi selama proses produksi. Selain menampilkan kemampuan akting, para santri juga berhasil melahirkan lagu orisinal pertama Teater Laysa sebagai bagian integral dari pementasan, sebuah capaian yang diharapkan menjadi awal lahirnya karya-karya kreatif berikutnya.

Apresiasi turut disampaikan oleh alumni PPI 67 Benda sekaligus alumni Program Studi Seni Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Ghaida Harmony, S.Pd. Menurutnya, “Seikat Seruni” berhasil menghadirkan refleksi atas salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia melalui penyampaian yang berani, artistik, dan menyentuh.

Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Ia menilai pesan-pesan yang disampaikan, seperti menjaga diri sebagai bentuk ibadah, menjaga martabat sebagai wujud keberanian, serta menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan, memiliki relevansi yang kuat bagi generasi muda saat ini.

Melalui kolaborasi antara lagu “Tentram dalam Derita” dan pementasan “Seikat Seruni”, Santri Putri PPI 67 Benda menunjukkan bahwa seni dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah dan kemanusiaan secara lebih dekat dengan masyarakat. Pementasan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang pentingnya empati, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sebagaimana pesan yang mengiringi pementasan tersebut, “Seni berbicara ketika kata-kata tak lagi cukup, dan kemanusiaan hidup ketika kita berani mendengarkan.”

Panggung Berkisah: Ketika Musik dan Teater Menjadi Suara Perempuan

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment