Memahami Hakikat Istidraj Menyadarkan Hati Manusia Mewaspadai Kenikmatan Semu Duniawi untuk Memperbaiki Iman serta Mendapatkan Ridha Allah Ta’ala
seseorang yang sukses secara finansial tetapi terlibat dalam praktik korupsi atau dosa lainnya. Kekayaan dan keberuntungan yang mereka peroleh bukanlah tanda keberkahan, melainkan bisa jadi merupakan istidraj yang mengarah pada kerugian yang lebih besar di akhirat.
Dari Uqbah bin Amir ra, Nabi saw bersabda, “Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi saw membaca firman Allah, “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) (HR. Ahmad, No.17349 dan Ath-Thabrani Al-Mujam Al-Kabir, No.913)
Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan azabnya.
Allah berfirman, “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) (Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).
Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj.
Jebakan Istidraj
Banyak orang yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan adalah anugerah yang memuliakan.
Padahal, sebenarnya kenikmatan tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj dapat membuat manusia lupa kepada Allah Swt. dan merasa bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi.
Istidraj seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik kenikmatan yang mereka rasakan. Contoh dari Istidraj dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang yang gemar melakukan maksiat, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan.
Lihat juga: Polemik Guru: Antara Kompetensi, Imunitas, dan Kesejahteraan
Seseorang yang tidak shalat, namun tetap merasa hidupnya baik-baik saja. Semua contoh-contoh tersebut adalah tanda-tanda Istidraj dari Allah Swt. yang bisa menjadi jebakan bagi seseorang yang tidak menyadari bahwa kenikmatan yang diberikan Allah Swt. sebenarnya adalah ujian. Oleh karena itu, kita harus selalu beribadah dan menghindari maksiat agar tidak terjebak dalam Istidraj.
Jika seseorang terjebak dalam Istidraj maka ia akan merasa senang dan nyaman dengan kenikmatan dunia yang diberikan oleh Allah Swt., meskipun ia jarang atau bahkan tidak pernah beribadah.
Istidraj adalah jebakan berupa limpahan rezeki yang diberikan Allah kepada seseorang yang terus-menerus bermaksiat kepada-Nya. Nama lainnya adalah DILULU. Hal ini bisa terjadi, misalnya, pada orang yang menjalani praktik syirik, seperti ritual pesugihan, dan mendapati kekayaan dengan cepat. Namun, kekayaan tersebut bukanlah tanda kemuliaan; sebaliknya, itu adalah bentuk istidraj, yang menunjukkan bahwa Allah Swt. memberi nikmat sebagai ujian.
Hal ini dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah Swt. dan semakin gemar dalam berbuat maksiat.
Seseorang yang terjebak dalam Istidraj akan merasa hidupnya lancar-lancar saja, namun sebenarnya ia sedang diuji oleh Allah Swt. Istidraj dapat membuat seseorang lupa akan hakikat hidupnya dan tidak menyadari akibatnya. Hingga pada saatnya Allah akan mencabut semua kesenangan sampai mereka termangu dalam penyesalan yang terlambat.
Sebagaimana firman Allah SWT: “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).
Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 141) disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 260).
Contoh istidraj bisa kita lihat pada orang yang hidup dalam kemewahan dan kesenangan, tetapi jauh dari nilai-nilai agama. Misalnya, seseorang yang sukses secara finansial tetapi terlibat dalam praktik korupsi atau dosa lainnya. Kekayaan dan keberuntungan yang mereka peroleh bukanlah tanda keberkahan, melainkan bisa jadi merupakan istidraj yang mengarah pada kerugian yang lebih besar di akhirat. Seiring waktu, mereka mungkin akan menghadapi konsekuensi dari perilaku tersebut, yang bisa berujung pada kesedihan dan penyesalan.
Lihat juga: Awas Jebakan Pinjol!
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Terkadang, sebagian orang terpedaya dikarenakan bersandar penuh pada apa yang dilihatnya dari nikmat-nikmat yang tercurah untuknya di dunia. Ia merasa bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi tersebut. Ia menyangka semua anugerah itu diterimanya karena cinta Allah kepadanya, bahkan Dia akan memberikan yang lebih baik untuknya di akhirat nanti. Inilah contoh orang yang tertipu.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 54)
Solusi terhindar Istidraj
Untuk terhindar dari istidraj, kita perlu meningkatkan keimanan dengan selalu beribadah dan memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Selain itu, kita juga perlu berdoa kepada Allah Swt. agar senantiasa diberikan hidayah dan perlindungan dari segala bentuk ujian, termasuk istidraj.
Selalu mengerjakan amal shaleh dan berbuat baik kepada sesama juga dapat membantu kita terhindar dari istidraj. Selain itu, kita harus menjaga diri dari perbuatan maksiat dan selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Tidak lupa juga, kita harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah Swt..
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap istidraj. Kita harus selalu mengingat bahwa semua kenikmatan yang kita terima berasal dari Allah Swt. dan kita harus selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya.
Kita juga harus selalu mengingat bahwa dunia ini hanyalah sementara dan kita harus mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi di akhirat. Manusia harus selalu mengingat bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam keimanan kepada Allah Swt. (UM)

