Memahami Hakikat Ikhwatun dan Ikhwanun Menggerakkan Solidaritas Ukhuwah Islamiyah untuk Membangun Persaudaraan Sejati yang Kokoh di Tengah Masyarakat Modern

Last Updated: 25 September 2026By Daily Views: 4Total Views: 32

Innamal mu’minuuna ikhwatun (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) Q.S. Al-Hujurat [49]: 10

Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa (tsarwah lughawiyyah). Salah satu keunikannya adalah konsep Jama’ Taksir (jamak tidak beraturan), di mana satu kata tunggal dapat memiliki beberapa bentuk jamak dengan nuansa makna yang berbeda.

Kata Akhun yang berarti saudara laki-laki memiliki dua bentuk jamak utama, yaitu Ikhwatun dan Ikhwanun. Ketidaktahuan masyarakat dalam membedakan keduanya sering kali mengaburkan pesan mendalam yang ingin disampaikan, terutama dalam teks-teks keagamaan.

Ada dua ungkapan yang sederhana namun sarat makna serta menjadi faktor penentu terwujudnya barisan persaudaraan yang kokoh. Ungkapan yang dimaksud adalah Ikhwatun dan Ikhwanun.

Kedua ungkapan ini sering diterjemahkan dengan “saudara” dan tidak salah diterjemahkan seperti itu. Namun sebenarnya, terdapat perbedaan makna diantara keduanya.

Perbedaan Ikhwatun dan Ikhwanun

Dalam bahasa Arab, kata dasar untuk saudara adalah Akhun. Namun, bahasa Arab memiliki keunikan di mana satu kata benda tunggal bisa memiliki lebih dari satu bentuk jamak (plural), yang masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda secara spesifik.

Pakar bahasa seperti Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an menjelaskan bahwa Ikhwatun khusus digunakan untuk mereka yang disatukan oleh rahim yang sama atau ayah yang sama.

Lihat juga: Perjuangan yang tidak melibatkan generasi muda adalah perjuangan yang mandul

Ikhwatun, saudara yang disebabkan oleh faktor ansab (nasab, keturunan darah). Seperti saudara kandung, saudara seayah atau seibu. Hubungan ini bersifat alami, tidak bisa dipilih, dan permanen karena didasarkan pada DNA dan hukum waris (ikatan biologis).

Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf, “Ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara laki-lakinya (akhuuhu) lebih dicintai oleh ayah kita…” Qs. Yusuf [12]: 8. Di ayat lain dalam surat yang sama, saudara-saudara Yusuf disebut dengan Ikhwatun.

Sementara Ikhwanun, saudara yang disebabkan faktor ashab, digunakan untuk merujuk pada persaudaraan karena kesamaan sifat, cita-cita, profesi (persahabatan, perkawanan). Mencakup teman sejawat, sahabat karib, rekan seperjuangan, atau perkumpulan. Hubungan ini biasanya dibangun atas dasar pilihan, interaksi sosial, dan kesamaan visi.

Makna ikhwatun dalam Alquran, dimaknai saudara kandung atau saudara seketurunan dan berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya: “Diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara perempuan ibumu, (dan) anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki …” Q.s. An-Nisa [4]: 23

Sementara makna Ikhwanun, yaitu saudara sekawan digunakan, seperi orang yang melakukan tabdzir, ia dinilai sebagai saudara Setan, sebagaimana dalam Q.s. Al-Isra [17]: 27, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS Al-Israa: 27)

Persaudaraan Kaum Mukmin

Secara teori, sesama Muslim yang berbeda bangsa seharusnya disebut Ikhwanun (persaudaraan ideologi). Namun Allah SWT menggunakan ikhwatun.

Ketika Alquran membicarakan persaudaraan kaum mukmin, ternyata ungkapan yang digunakan adalah ikhwatun bukan ikhwanun, padahal banyak di antara kaum mukmin yang tidak satu nasab, sebagaimana pada Q.s. Al-Hujurat [49]: 10.

Walaupun tidak satu nasab, tidak satu turunan, tidak seibu dan sebapak tapi orang mukmin dengan mukmin lainnya oleh Alquran dinyatakan sebagai saudara.

Para mufassir menjelasakan alasannya kenapa Ikhwatun. 1) Li at-Taukid (untuk penekanan), Allah ingin menegaskan bahwa ikatan iman itu harus dirasakan sekuat hubungan darah. Jika saudara kandung sakit kita ikut sedih, maka sesama Muslim pun harus demikian. 2) Menghilangkan ego, dalam Ikhwatun (nasab), tidak ada persaingan untuk “memilih”. Dengan menggunakan kata ini, Allah memerintahkan agar ego pribadi dan kesukuan dihilangkan, karena kita semua adalah satu “keluarga besar”.

Lihat juga: Disertasi yang mengangkat ‘Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur

Dengan demikian, apa sebenarnya yang mempersaudarakan sesama mukmin. Kita cermati sabda Rasulullah saw. berikut: “Sesungguhnya seorang mukmin di antara ahli Iman itu sama kedudukannya dengan kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasakan sakit karena sakitnya ahlu iman, sebagaimana jasad merasakan sakit karena rasa sakit di kepala.” (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, jilid 37, hal. 517, No. hadis 22.877)

Dengan kalimat min ahlil iman menunjukkan bahwa kaum mukmin dikatakan ikhwatun karena al-jami’u ikhwatun fid din, mereka saudara seiman, Keadaan mereka sama dengan keadaan orang yang senasab, seketurunan darah (beribu-bapak biologis), karena (beribu-bapak ideologis), yakni Alquran (“Bapak”) dan Sunnah (“Ibu”)

Saudara Seagama

Dalam ayat lain penyebutan Ikhwan disertakan dengan kata ad-din, “Apabila mereka bertobat, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka adalah saudara-saudara kamu seagama…” (QS. At-Taubah: 11)

Saudara seagama merupakan nikmat Allah, firman Allah SWT “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)

Dengan sebutan ikhwatun tidak berarti bahwa dalam pergaulannya, dalam interaksinya tidak terjadi perselisihan, pertikaian,  ataupun berbeda pendapat. Hal itu diisyaratkan dalam sambungan ayat tersebut, Fa Ashlihuu Baina Akhawaikum, “Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan  bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Kata “ashlihu” menunjukkan bahwa predikat ikhwatun tidak menjamin sirnanya ikhtilaf, perbedaan faham dan pendapat.

Tetapi dengan ikhwatun terjamin bahwa setiap perselisihan dan perbedaan paham antar sesama saudara dengan mudah dapat dihentikan, mudah dicegah, dapat segera dihindari, karena kaum mukmin mempunyai ibu-bapak yang sama, orang tua sebagai tempat mengembalikan setiap persoalan, orang tua yang berwibawa yang wajib ditaati segala perintah dan anjurannya, yakni Alquran dan sunnah.

Imam Al-Qurthubi menuturkan, “Tali ikatan persaudaraan seagama lebih kukuh daripada ikatan persaudaraan nasab. Sebab, ikatan persaudaraan nasab terputus karena berbeda agama, sementara persaudaraan seagama tidak akan terputus karena berbeda nasab.” (Tafsir Al-Qurthubi, XVI: 322).

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara Ikhwatun dan Ikhwanun bukan sekadar variasi kata, melainkan perbedaan esensi hubungan. 1) Ikhwatun adalah persaudaraan permanen karena kelahiran (nasab) atau persaudaraan iman yang sangat erat. 2) Ikhwanun adalah persaudaraan fleksibel karena kesamaan tujuan, persahabatan, atau persekutuan. 3) Penggunaan kata Ikhwatun untuk mukmin dalam Al-Qur’an adalah bentuk majas untuk menunjukkan bahwa kualitas persaudaraan iman harus melampaui segala jenis ikatan lainnya di dunia. (UM)

 

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment