Kopdar IPP Kota Tasikmalaya Bedah G30SPKI: Dari Fakta Sejarah hingga Propaganda Politik

Kopdar IPP Kota Tasikmalaya Bedah G30SPKI: Dari Fakta Sejarah hingga Propaganda Politik

Last Updated: 1 Oktober 2025By Daily Views: 2Total Views: 275

LAPORAN: Fawaz Raul Al Rusyid

TasikNews.com – Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Pelajar Persis (IPP) Kota Tasikmalaya menyelenggarakan KOPDAR (Keur Ngopi Bari Diajar) dengan tema “G30S/PKI: Dari Peristiwa Menuju Propaganda” di Waroeng Tansoe, Indihiang, Senin (29/09/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas intelektual pelajar Persis melalui forum diskusi sejarah yang kritis dan mendalam.

Acara menghadirkan Andrian Abdurahman, influencer edukasi yang aktif di media sosial, sebagai pemantik diskusi. Forum dipandu oleh Irsyad Fathurahman, Ketua Bidang Organisasi & Kelembagaan PD IPP Kota Tasikmalaya, serta dihadiri oleh Ketua PD, sejumlah kader IPP, dan mahasiswa Universitas Siliwangi.

Forum berlangsung hangat dengan membahas berbagai teori mengenai peristiwa G30S/PKI, khususnya dalam mengingat sejarah kelam 30 September. Peserta menyoroti beragam pandangan masyarakat, termasuk polemik seputar film G30S/PKI yang selama ini dinilai sarat muatan propaganda. Generasi saat ini disebut hanya bisa mengenal peristiwa tersebut melalui buku sejarah atau kesaksian saksi hidup.

BACA JUGA: INSAN PD IPP Kota Tasikmalaya: Meneguhkan Hidup Berjamaah, Menyelamatkan Pelajar dari Individualisme Digital

Pembahasan juga menyinggung tragedi pembunuhan para jenderal yang kemudian diikuti dengan penangkapan serta pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh terkait dengan PKI. Dalam pandangannya, Irsyad menilai kebijakan pemerintah Orde Baru saat itu diarahkan untuk menjaga stabilitas dan membatasi gerakan yang dinilai mengancam.

Sementara itu, Muhammad Rakha Aly Faza menyoroti dampak sosial dari peristiwa tersebut, dengan menceritakan pengalaman keluarganya yang pernah menghadapi stigma sosial karena latar belakang sejarah. Hal ini menjadi pengingat bahwa peristiwa masa lalu masih dapat dirasakan pengaruhnya hingga kini.

Diskusi juga menyinggung konteks geopolitik saat itu, termasuk dugaan keterlibatan kekuatan asing dalam dinamika politik Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan posisi Presiden Soekarno yang lebih dekat dengan Uni Soviet, sementara Jenderal Soeharto dinilai memiliki hubungan lebih baik dengan Amerika Serikat. Topik ini dipandang sebagai bagian dari dinamika global pada era Perang Dingin.

BACA JUGA: INSAN IPP Kota Tasikmalaya: Bahas Tuntas Ar-Rasikhuuna Fil ‘Ilmi

Meskipun rezim Orde Baru berusaha menumpas pengaruh PKI, peserta diskusi menilai bahwa wacana tentang peristiwa tersebut tetap hidup hingga kini, baik melalui kajian akademik maupun ruang publik. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah selalu terbuka untuk dikaji ulang dengan perspektif yang lebih kritis dan seimbang.

Melalui kegiatan ini, peserta KOPDAR mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai G30S/PKI, mulai dari aspek sejarah hingga tafsir politik, serta bagaimana peristiwa tersebut menjadi bagian dari narasi kebangsaan yang terus dikaji.

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment