Penonton Nilai Teater "Taqlid" sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Penonton Nilai Teater “Taqlid” sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Last Updated: 20 Juni 2026By Daily Views: 1Total Views: 451


TasikNews.com
– Pementasan teater “Taqlid” karya Teater Layar Santri PPI 67 Benda mendapat apresiasi luas dari para penonton. Pertunjukan yang digelar pada 10 Juni 2026 di Gedung Serbaguna Aminullah PPI 67 Benda, Kota Tasikmalaya, dinilai sebagai langkah penting dalam menghadirkan transformasi dakwah melalui pendekatan seni di lingkungan Persatuan Islam.

Sekitar 300 penonton menghadiri pementasan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari santri, alumni, civitas akademika PPI 67 Benda, masyarakat umum, hingga unsur Pimpinan Daerah Otonom Persatuan Islam Tasikmalaya. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa karya seni bernuansa dakwah mendapat tempat di tengah masyarakat.

Penonton Nilai Teater "Taqlid" sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Pementasan “Taqlid” merupakan bagian dari rangkaian Haflah Imtihan dan Pekan Amal (HIPA) 2026 yang diselenggarakan oleh Rijalul Ghad (RG) dan Ummahatul Ghad (UG) PPI 67 Benda. Kehadirannya memperkuat kolaborasi antara kegiatan pendidikan, sosial, dan pengembangan kreativitas santri dalam satu rangkaian kegiatan pesantren.

Berbeda dengan metode dakwah yang lazim disampaikan melalui ceramah, “Taqlid” menghadirkan pesan-pesan keislaman melalui seni pertunjukan. Naskah teater ini mengangkat fenomena sosial-keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya praktik beragama yang masih didominasi sikap mengikuti tanpa memahami landasan dalil secara mendalam. Tema tersebut dikemas dalam alur dramatik yang emosional dan reflektif sehingga mampu mengajak penonton merenungkan kembali pentingnya beragama dengan ilmu dan kesadaran.

Salah seorang penonton, Maman Suherman, mengaku terkesan dengan keberanian para santri mengangkat tema tersebut melalui panggung teater.

“Saya baru pertama kali menyaksikan teater seperti ini. Teater yang memuat pesan-pesan dakwah dengan mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan kita. Ini merupakan karya yang sangat berani dipentaskan oleh santri. Dengan adanya pementasan ini, santri tidak hanya fokus pada pembelajaran di pesantren, tetapi juga peka dan aktif menjawab berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Penonton Nilai Teater "Taqlid" sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Menurut Maman, kehadiran Teater Layar Santri menandai perubahan cara pandang terhadap dakwah di lingkungan pesantren. Dakwah, menurutnya, kini tidak hanya disampaikan melalui forum pengajian atau mimbar, tetapi juga melalui medium seni yang komunikatif dan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Teater Layar Santri PPI 67 Benda tidak lagi sekadar meromantisasi sejarah tokoh-tokoh Persis terdahulu, tetapi mulai menuliskan namanya sendiri dalam lembaran sejarah melalui transformasi dakwah Persatuan Islam lewat seni teater,” katanya.

Ia menambahkan bahwa “Taqlid” bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang dialog yang mempertemukan nilai-nilai agama, ekspresi seni, dan realitas sosial. Menurutnya, keberanian santri menyampaikan kritik sosial melalui karya teater merupakan langkah positif dalam memperluas peran dakwah di tengah dinamika masyarakat.

Penonton Nilai Teater "Taqlid" sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Apresiasi serupa juga datang dari civitas akademika PPI 67 Benda dan unsur Pimpinan Daerah Otonom Persatuan Islam Tasikmalaya yang hadir menyaksikan pementasan. Salah seorang perwakilan menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini layak terus dikembangkan sebagai wadah kreativitas santri dalam menyampaikan nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi masa kini.

“Kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan karena menjadi ruang kreatif bagi santri untuk menyampaikan nilai-nilai dakwah dengan cara yang lebih dekat dan relevan dengan generasi hari ini,” ungkapnya.

Antusiasme ratusan penonton sepanjang pementasan menjadi indikator bahwa dakwah berbasis seni mampu diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Lebih dari sekadar hiburan, “Taqlid” menghadirkan ruang refleksi tentang praktik keberagamaan sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media dakwah yang efektif, edukatif, dan kontekstual. Pementasan ini sekaligus memperlihatkan bahwa santri tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga sebagai pelaku transformasi dakwah yang kreatif dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Penonton Nilai Teater "Taqlid" sebagai Tonggak Transformasi Dakwah Berbasis Seni di Lingkungan Persatuan Islam

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment