Dialektika Ego dan Akal dalam Kepemimpinan Pemuda

Last Updated: 25 Mei 2026By Daily Views: 2Total Views: 297

Hilman Rasyid

OPINI: Hilman Rasyid, M.Pd
(Sekretaris PD Pemuda Persis Kota Tasikmalaya)

TasikNews.com – Kedewasaan intelektual lahir bukan dari keyakinan bahwa diri selalu benar, melainkan dari kesediaan untuk terus diuji oleh keberadaan pandangan lain. Dalam kehidupan organisasi kepemudaan, terutama di tubuh Pemuda Persis, setiap pendapat pada hakikatnya hidup di tengah pluralitas: pluralitas pengalaman, disiplin ilmu, komunitas, tradisi berpikir, bahkan horizon keyakinan. Karena itu, benturan antargagasan bukanlah penyimpangan dari proses berpikir, tetapi justru mekanisme alami yang menjaga akal organisasi tetap bergerak.

Sebuah gagasan yang tidak pernah berjumpa kritik cenderung berubah menjadi dogma; ia berhenti tumbuh karena kehilangan ruang koreksi. Pada konteks ini, kemampuan menerima keberadaan sudut pandang berbeda bukan tanda kelemahan argumentatif, melainkan indikator kematangan intelektual seorang kader dan pemimpin organisasi.

Manusia sering terjebak pada ilusi finalitas pengetahuan. Ketika seseorang mendalami satu bidang secara intens, pengalaman dan kapasitas yang dimilikinya dapat tanpa sadar melahirkan superioritas kognitif, merasa bahwa kerangka berpikirnya paling memadai untuk menjelaskan realitas organisasi. Padahal, setiap pendekatan memiliki keterbatasan metodologis dan sudut butanya sendiri. Ada yang melihat organisasi dari sisi ideologis, ada yang menimbang dari realitas lapangan, ada pula yang memandang melalui pendekatan strategis dan organisatoris.

Karena itu, dialog lintas perspektif sejatinya bukan ancaman bagi organisasi, tetapi sarana untuk menyingkap keterbatasan yang tidak tampak dari dalam ruang pikir sendiri. Pemimpin yang menolak mendengar pandangan berbeda sesungguhnya sedang membatasi kemungkinan perluasan intelektual organisasinya sendiri.

Fenomena “tone deaf” terhadap perbedaan pendapat menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Seseorang dapat sangat aktif secara organisatoris, produktif dalam forum, bahkan diakui secara struktural, tapi bisa gagal membangun kerendahan hati intelektual. Ketika pendapat lain langsung dipandang sebagai ancaman terhadap wibawa atau loyalitas, bukan sebagai peluang refleksi, maka yang bekerja bukan lagi rasio organisasi, melainkan ego struktural.

Pada kondisi ini, musyawarah kehilangan fungsi pencarian maslahat dan berubah menjadi arena mempertahankan posisi. Padahal, tradisi intelektual dan tradisi syura dalam organisasi Islam justru bertumpu pada keberanian mempertanyakan diri sendiri sebelum mempertanyakan orang lain.

Ironisnya, dalam situasi tertentu bahkan muncul legitimasi normatif dengan mengutip kaidah:

الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ

Mudharat harus dicegah semaksimal mungkin.

Kaidah ini pada dasarnya sangat luhur dalam tradisi fiqh dan pengambilan kebijakan. Namun persoalannya bukan pada kaidahnya, melainkan pada cara menggunakannya. Sebab tidak jarang istilah “mencegah mudharat” dipakai secara subjektif untuk menyingkirkan pandangan yang berbeda, membatasi partisipasi, atau membangun lingkaran kekuasaan yang sempit atas nama menjaga organisasi. Akibatnya, niat ingin mencegah kemudharatan justru melahirkan kemudharatan baru: hilangnya kepercayaan, matinya ruang dialog, tumbuhnya polarisasi kader, dan lahirnya rasa saling curiga di dalam tubuh organisasi sendiri.

Padahal dalam tradisi pemikiran Islam, mencegah mudharat tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan maslahat yang lebih luas, objektif, dan proporsional. Tidak setiap perbedaan adalah ancaman, dan tidak setiap kritik adalah bahaya. Kadang organisasi justru menjadi kuat karena adanya koreksi, keterbukaan, dan keberanian menerima evaluasi. Sebaliknya, organisasi dapat melemah ketika semua orang dipaksa seragam, takut berbicara, dan akhirnya memilih diam demi menjaga kenyamanan struktural. Dalam konteks ini, kedewasaan seorang pemimpin diuji: apakah ia benar-benar sedang menjaga organisasi, atau sekadar menjaga kenyamanan kekuasaan dan kelompoknya sendiri.

Karena itu, kedewasaan intelektual tidak dapat diukur hanya dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi dari keluasan ruang dengar yang disediakan seseorang bagi pandangan yang berbeda. Mendengar bukan berarti selalu menyetujui, dan mengkaji bukan berarti harus meninggalkan keyakinan sendiri. Tetapi, kesediaan membuka diri terhadap tesis maupun antitesis menunjukkan bahwa seorang kader memahami organisasi sebagai proses yang terus menjadi, bukan sesuatu yang selesai. Dalam dunia organisasi yang semakin terfragmentasi oleh identitas, kepentingan kelompok, dan ego struktural, kemampuan merawat dialog yang rasional dan reflektif justru menjadi bentuk tertinggi dari kematangan intelektual seorang pemimpin muda.

Di banyak ruang organisasi modern, kita menyaksikan lahirnya kaum “scholasticus instan”, mereka mengenakan simbol otoritas intelektual sebagaimana para bangsawan Renaisans mengenakan mantel kehormatan: penuh simbol status tapi miskin keberanian berpikir. Mereka mengoleksi kutipan, istilah asing, dan retorika organisasi sebagaimana kolektor abad lampau memburu manuskrip Yunani, tetapi hanya untuk dipamerkan sebagai ornamen legitimasi, bukan untuk mengguncang cara pandang sendiri.

Setiap sanggahan dianggap penghinaan, setiap kritik diperlakukan seperti ancaman terhadap marwah kelompoknya. Maka forum diskusi pun berubah menyerupai istana kecil para aristokrat epistemik: ramai pidato, miskin dialog; penuh gema diri, tapi sunyi pencarian maslahat organisasi. Herannya, di saat mereka mengaku membawa semangat pembaruan, yang dipelihara justru mentalitas takut pada perbedaan, curiga pada pertanyaan, dan gemetar menghadapi kemungkinan bahwa realitas organisasi jauh lebih luas daripada keyakinannya sendiri.

Karena itu, kepemimpinan pemuda hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mobilisasi dan retorika. Ia membutuhkan kerendahan hati intelektual, keluasan mendengar, dan keberanian menerima kemungkinan bahwa pandangan diri sendiri pun bisa keliru. Sebab organisasi besar tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu ingin menang sendiri, tetapi oleh kader-kader yang mampu menjaga persatuan tanpa mematikan perbedaan, serta mampu merawat idealisme tanpa kehilangan kejernihan akal dan keluasan hati.

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment