Arti Ustadz: Siapa yang Layak Mendapatkan Sebutan Ini?

Last Updated: 16 Mei 2026By Daily Views: 5Total Views: 462

Hilman Rasyid

OPINI: Hilman Rasyid, M.Pd
(Sekretaris PD Pemuda Persis Kota Tasikmalaya)

الْأُسْتَاذُ كَلِمَةٌ ‌أَعْجَمِيَّةٌ وَمَعْنَاهَا الْمَاهِرُ بِالشَّيْءِ وَإِنَّمَا قِيلَ ‌أَعْجَمِيَّةٌ لِأَنَّ السِّينَ وَالذَّالَ الْمُعْجَمَةَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي كَلِمَةٍ عَرَبِيَّةٍ وَهَمْزَتُهُ مَضْمُومَةٌ

Dalam Kitab Tāj al-‘Arūs min Jawāhir al-Qāmūs (9/418), salah satu kamus dan ensiklopedia bahasa Arab klasik yang sangat berpengaruh, Kata ‘ustadz’ berasal dari bahasa asing. Menurut pendekatan yang digunakan oleh Syihab al-Fayyumi, huruf hamzah dalam kata ini dianggap asli, karena ia membahas kata tersebut dalam bab hamzah. Ia berkata, ‘Ustadz adalah kata asing, yang maknanya adalah orang yang ahli dalam suatu hal yang besar.’ Istilah ini tidak ditemukan dalam bahasa Arab jahiliah.

Namun, masyarakat umum menggunakan kata ini dengan makna ‘kasim’, karena kasim sering menjadi pengasuh anak-anak. ‘Ustadz adalah istilah yang bukan berasal dari bahasa Arab dan tidak ditemukan dalam syair jahiliah. Masyarakat umum mulai menggunakan istilah ini sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang mereka kagumi, yang diambil dari makna seseorang yang ahli dalam pekerjaannya. Hal ini karena orang yang memiliki keahlian biasanya mengasuh anak-anak kecil di bawah pengawasannya, sehingga ia dianggap sebagai ‘ustadz’ dalam mendidik mereka dengan adab yang baik.’

Kata ini bukan berasal dari bahasa Arab dan memiliki wazan af‘āl. Dalam bahasa Arab kuno, bentuk jamak dari ustaz adalah asatidzah. Kalimat al-ustādh adalah kata serapan (a‘jamiyyah), dan artinya adalah seseorang yang mahir dalam suatu bidang. Disebut kata serapan karena huruf sīn dan dhāl (dengan titik) tidak berkumpul dalam satu kata yang berasal dari bahasa Arab. Huruf hamzah pada kata tersebut berharakat dhammah (dibaca u). (Kitab Misbah Munir, 1/14)

Kata ini digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki keahlian tertentu, seperti ahli fikih, qari, atau guru. Kata ini berasal dari bahasa penduduk Irak, dan saya tidak menemukannya dalam bahasa Arab klasik. Dalam Kitab Syarh Diwan al-Mutanabbi, 1/170 juga dijelaskan:

وَالْمعْنَى يُرِيد أَن كافورا شب وارتفع مكتهلا فى حلم الكهول قبل أَن يكتهل وأدبيا قبل أَن يُؤَدب يعْنى أَنه طبع على الْحلم وَالْأَدب وَلم يستفدهما من مر الليالى

“Penggunaan kata ini bertujuan untuk menegaskan bahwa Kafur tumbuh dewasa dengan sifat hikmah dan kesopanan yang biasanya dimiliki oleh orang yang lebih tua, bahkan sebelum ia mencapai usia tersebut. Dengan kata lain, sifat hikmah dan kesopanannya adalah bawaan lahir, bukan hasil dari pengalaman panjang atau tempaan waktu.”

Kafur dalam teks tersebut merujuk pada Abu al-Misk Kafur, seorang kasim asal Afrika yang menjadi penguasa Dinasti Ikhsyidiyah di Mesir (905–968 M). Ia dikenal sebagai budak yang berhasil mencapai kedudukan tinggi hingga menjadi gubernur dan penguasa de facto Mesir. Kafur juga disebut-sebut dalam karya-karya sastra Arab, termasuk puisi satir oleh penyair terkenal, seperti Al-Mutanabbi.

Dalam konteks kutipan di atas, Kafur dipuji karena kebijaksanaan dan kepribadiannya yang terpuji, meskipun ia berasal dari latar belakang yang tidak umum bagi seorang penguasa. Pujiannya juga menyoroti bahwa sifat-sifat baik tersebut adalah bawaan sejak lahir, bukan hasil dari pendidikan atau pengalaman hidup.

Sedangkan dalam kitab Kitab Muntahā al-Su’āl ‘alā Wāsil al-Wusūl (1/84) tertulis:

الأستاذ كلمة ليست بعربية، ولا توجد في الشعر الجاهلي، واصطلحت العامة إذا عظّموا المحبوب أن يخاطبوه ب «الأستاذ» .وإنما أخذوا ذلك من الماهر بصنعته!! لأنه ربما كان تحت يده غلمان يؤدّبهم، فكأنه أستاذ في حسن الأدب؛ حدثنا بهذا جماعة ببغداد، منهم أبو الفرج ابن الجوزي

“Kata ‘ustadz’ bukan berasal dari bahasa Arab dan tidak ditemukan dalam syair jahiliah. Namun, masyarakat umum mulai menggunakan istilah ini untuk memuliakan seseorang yang mereka kagumi dengan memanggilnya ‘ustadz’. Mereka mengambil istilah ini dari makna seseorang yang ahli dalam pekerjaannya, karena ia mungkin memiliki anak-anak di bawah pengawasannya yang ia didik. Seolah-olah ia adalah ‘ustadz’ dalam mendidik mereka dengan baik. Kami menerima informasi ini dari sekelompok orang di Baghdad, di antaranya adalah Abu al-Faraj Ibn al-Jawzi”

Namun di Indonesia, meskipun tidak ada kriteria formal yang mengatur gelar ini, ustadz digunakan secara umum untuk menyebut siapa pun yang mengajarkan agama Islam, baik secara formal di lembaga pendidikan seperti pesantren maupun secara nonformal di majelis taklim, masjid, atau acara keagamaan lainnya. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut dosen, khususnya dalam lingkungan yang lebih akrab atau berbasis agama. Di kampus-kampus Islam, panggilan ustadz terhadap dosen merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan atas kapasitas keilmuan mereka.

Di Mesir, ustadz adalah gelar akademik yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam dunia pendidikan, yaitu profesor. Hal ini menunjukkan bahwa kata ustadz di dunia Arab lebih terstruktur dan spesifik dalam penggunaannya dibandingkan dengan di Indonesia, yang lebih fleksibel dan dipengaruhi oleh budaya lokal.

Dengan demikian, perubahan makna kata ustadz mencerminkan fleksibilitas bahasa dalam merespons kebutuhan sosial dan budaya yang berkembang, serta menunjukkan betapa pentingnya istilah ini dalam berbagai konteks, baik dalam pendidikan agama, akademik, maupun masyarakat secara umum.

Bagikan Informasi ini ke Platform Anda!

Leave A Comment